Menyimak tulisan Pak Willy tentang Perguruan Tinggi siluman, dan membaca tulisan gara-gara sertifikasi banyak guru yang ikut kejar paket D (cari ijazah S1) secara instan. cukup di sekolah ijazah datang sendiri, asal ada duit.…. hmmm jadi sadar bahwa negeri ini sepertinya memang negeri siluman. Budaya rekayasa sudah menjadi bagian dalam setiap kebijakan.
Jika 5 tahun yang lalu kegiatan olahraga di sekolahku berlangsung dengan tertib, beberapa prestasi dapat diraih, maka tahun tahun terakhir ini terasa makin menurun. Penurunan prestasi ini justru ketika sekolah kami telah memiliki dua guru berlatar belakang PJOK (pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan). Aneh memang…!
Seharusnya dengan telah memiliki guru berlatar belakang PJOK, harus pula diiringi ukiran prestasi di bidang olahraga, paling tidak pelaksanaan kegiatan olahraga baik intra maupun ekstra lebih tertib dan terukur. Apalagi guru PJOK sekolah kami mulai mempersiapkan sertifikasi kuota 2011.Tak lama lagi sekolah kami memiliki guru profesional untuk mata pelajaran PJOK.
Sejumlah pertanyaan pun muncul menyikapi kejadian yang menurut saya aneh. Adanya guru profesional kok tidak dibarengi dengan pretasi. Apakah ini yang dimaksud hasil dari perguruan tinggi siluman?. Jika Paket A = setara SD, Paket B = setara SMP, Paket C = setara SMA, apakah berarti perguruan tinggi siluman = Paket D…?
“Wah kalau begitu nanti cari Paket E saja untuk memperoleh gelar Magister‘, kelakar Pak Sastro membaca tulisan ini.
semakin mengerikan kalau negeri ini di penuhi dengan siluman yang bergentayangan di siang hari
tidak mempan dengan kursi bahkan dilempar dengan meja sekalipun
apa semacam ini yang bakal mencetak calon gayus baru nanti
budaya barang bukti berupa tanda tangan ya mas
apanya yang salah kira – kira dengan sertifikasi guru ya, idealismenya baik tapi kok ada aja celah2 oknum oportunis. Merugikan bagi guru yang mencoba bener2 profrsional.
standarisasi berupa sertifikasi tak lebih hanya formalitas yang pada akhirnya cuma ada untuk disiasati dan dimanipulasi. inilah realita yang terjadi di negeri para zombie.
Weleh… kok bisa gitu ya.. menjadi guru hanya mengejar sertifikasi. Semoga saya tidak ikutan.. 🙂
sampean kok belum daftar di gravatar ya pak, kok gambarnya belum muncul
Sejarah pendidikan yang amat menyedihkan memang, Pak. Apalagi yang menjadi korban akhirnya generasi negeri ini, yang kelak akan memimpin gerak pertiwi ini.
ketawa bang ane
sepertinya kita tinggal di negeri hebat ya