Pengolahan Tanah Tanaman Sayuran – budiesinfo.com

Pengolahan Tanah Tanaman Sayuran

Bahan Ajar kelas XI ATPH semester 3
Kompetensi Dasar
3.2 Menganalisis pengolahan tanah tanaman sayuran
4.2 Melaksanakan pengolahan tanah tanaman sayuran sesuai dengan prosedur
33 Menganalisis pembuatan bedengan tanaman sayur
4.3 Melaksanakan pembuatan bedengan tanaman sayur sesuai dengan prosedur

 Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari bab ini siswa di harapkan mampu
1, menganalisis pengolahan tanah tanaman sayuran daun dengan teliti,
2 melaksanakan pengolahan tanah tanaman sayuran daun sesuai prosedur dengan tanggung jawab:
3 menganalisis pembuatan bedengan sayuran dengan cermat, serta
4 melaksanakan pembuatan bedengan sayuran daun sesuai prosedur dengan tanggung jawab

  1. Sanitasi Lahan

Sanitasi lahan adalah kegiatan membersihkan lahan cari bebatuan, rerumputan, sampah, semak, serta sisa sisa akar tanaman sebelumnya, Lahan untuk tanaman sayur tidak boleh ternaungi karena harus terkena cahaya matahari secara langsung, Kedalaman tanah yang dicangkul berkisar 20 40 cm sesuai dengan Jangkauan akar tanaman sayur, Tanah yang telah dibersihkan akan mengurangi risiko tanaman terjangkitnya hama dan penyakit, Sanitasi lahan umumnya dilakukan secara manual dengan mencahut atau membuang sisa tanaman dan batuan di atas tanah. Selain Itu, sanitasi lahan Juga dapat dilakukan dengan menggunakan alat seperti cangkul dan sabit, Sanitasi lahan memudahkan proses pengolahan tanah selanjutnya.

  1. Pengolahan Tanah

Setelah melakukan sanitasi lahan, selanjutnya tanah dibolak balik dengan menggunakan garu atau cangkul, Tujuan membolak-balikkan tanah agar tanah yang berada di atas dapat berpindah ke bawah. Demikian Juga sebaliknya, tanah yang berada di bawah dapat berpindah ke atas. Tujuan membolak-balikkan tanah yaitu agar hama dan penyakit di dalam tanah pada kedalaman tertentu mati karena terpapar oleh sinar matahari. Tujuan pengolahan tanah Ini adalah meningkatkan produktivitas lahan, memutus siklus hama dan penyakit pada tanaman, serta memperbaiki aerasi dan drainase tanah.

  1. Alat-Alat yang Digunakan dalam Pengolahan Tanah

Untuk memudahkan pengolahan tanah, diperlukan beberapa peralatan yang memadai. Adapun peralatan yang digunakan untuk pengolahan tanah ini dikelompokkan menjadi dua bagian sebagai berikut,

a, Alat dan mesin pengolahan tanah pertama (primary tillage equipment) Alat dan mesin pengolahan tanah pertama digunakan pada lahan yang kondisinya masih keras. Tanah diolah dengan cara memotong dan membalik tanah pada kedalaman 20 cm menggunakan alat. Macam alat pengolah tanah pertama yang umum digunakan adalah bajak plow dan segala jenisnya.

Bajak In umumnya digunakan ketika lahan masih belum diolah sama sekali sehingga struktur tanahnya masih padat. Bajak ini dikenal beberapa macam, yaitu bajak singkal (moldboard plow), bajak piring (disk plow), bajak pisau berputar (rotary plow), bajak chisel (chisel plow), bajak subsoil (subsoil plow), serta bajak raksasa (giant plow).

  1. Alat dan mesin pengolahan tanah kedua (secondary tillage eguipment) Setelah rnelakukan pengolahan tanah pertama maka dilakukan pengolahan tanah kedua, Pengolahan tanah kedua dilakukan lebih dangkal dan hanya memecah bongkahan-bongkahan tanah menjadi bagian yang lebih kecil.

Macam alat pengolah tanah kedua yang umumnya sering digunakan adalah garu, sabit/koret, cangkul, dan linggis. Adapun peralatan yang digunakan pada pengolahan tanah kedua sebagai berikut.

1) Garu (harrow) dengan segala jenisnya

Fungsi garu Ini untuk memecah padatan-padatan tanah yang telah dialah oleh bajak menjadi potongan tanah yang lebih kecil.

2)Sabit atau parang

Sabit atau parang digunakan untuk membersihkan lahan apabila masih terdapat sisa sampah maupun sisa tanaman sebelumnya. Umumnya petani lebih menyukai sabit dan parang dalam kondisi yang tajam karena efektif dalam menyelesaikan pekerjaan. Oleh karena itu, pemakaian sabit atau parang harus sangat berhati-hati.

3) Cangkul/garpu tanah

Alat ini digunakan untuk menghancurkan tanah bebatuan menjadi lebih kecil sehingga akar mudah melakukan penetrasi. Hal ini akan membuat penyerapan air dan unsur hara berjalan maksimal.

  1. Pola Pengolahan Tanah

Agar petani dapat melakukan pengolahan tanah dengan merata, perlu dibuat suatu pola dalam membolak-balikkan tanah.

  1. Tujuan pembuatan pola

Tujuan pembuatan pola diuraikan sebagai berikut.

1) Hasil bajakan merata

Tanah yang sudah diolah harus dibajak terlebih dahulu. Pembajakan yang dilakukan dengan tanah diangkat dan ditimbun kembali pada alur berikutnya sehingga hasilnya akan merata.

2) Meningkatkan efisiensi waktu

Pembuatan pola meningkatkan efisiensi waktu. Jika banyak belokan dan pengangkatan alat, banyak waktu yang terbuang. Jadi, efisiensi kerja akan semakin rendah.

 

  1. Pola pengolahan tanah

Beberapa pola yang sering digunakan petani dalam pengolahan tanah diuraikan sebagai berikut.

1) Pola tengah

Pola tengah sesuai dengan tanah yang memanjang dan sempit. Traktor masuk dari bagian tengah lahan, kemudian dibajak membujur dan d belokkan ke arah kanan. Selanjutnya, traktor digerakkan berlawanan dengan arah traktor pertama kali digerakkan. Begitu seterusnya sesua! dengan arah panah pada gambar berikut.

2) Pola tepi

Pola ini sesuai dengan tanah yang berbentuk memanjang dan sempit. Pola pengolahan ini dilakukan dari salah satu titik sudut lahan, kemudian berputar ke kiri sejajar dengan sisi lahan. Selanjutnya, dibajak lagi dari tepi lahan di sisi seberang lahan, Untuk sisa lahan yang tidak terbajak, dapat dilakukan dengan cara manual.

3) Pola keliling tengah

Pola pengolahan tanah tipe keliling tengah dilakukan dari tengah lahan, berputar sejajar dengan sisi lahan sampai ke bagian tepi lahan. Kesulitan pada tipe ini adalah ketika menjalankan traktor di awal pengolahan. Tipe keliling tengah sangat sesuai dengan tanah yang tidak terlalu luas dan berbentuk bujur sangkar.

4) Pola keliling tepi

Pola pengolahan keliling tepi dilakukan dari salah satu titik sudut lahan, kemudian berputar sejajar sisi lahan sampai ke tengah lahan. Kesulitan menjalankan traktor akan dialami pada akhir pengolahan lahan di bagian tengah lahan. Pola ini merupakan kebalikan dari pola keliling tengah.

5) Pola bolak-balik rapat

Pola pengolahan ini dilakukan dari salah satu tepi lahan dengan arah membujur. Setelah sampai pada ujung lahan pembajakan kedua, dilakukan berimpit dengan pembajakan pertama. Begitu seterusnya sampai pada sisi lahan di seberang. Pola ini sesuai dengan lahan memanjang dan sempit. Untuk bagian yang tidak terbajak dapat dilakukan pengolahan dengan cara manual.

 

  1. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam pengolahan tanah

Adapun dalam melakukan pengolahan lahan, terdapat beberapa faktor yang harus diperhatikan. Hal tersebut diuraikan sebagai berikut.

1) Topografi (kemiringan lahan)

Kemiringan lahan menentukan jenis alat yang akan digunakan untuk melakukan pengolahan tanah. Traktor tidak dapat digunakan pada lahan dengan kemiringan lebih dari 396, Untuk lahan miring, pengolahan dilakukan secara manual menggunakan cangkul. Kemiringan lahan ini juga menentukan jalannya pembuangan air.

2) Vegetasi

Vegetasi lahan adalah tumbuhan yang berada di atas tanah yang akan diolah. Sebaiknya, tanah yang akan diolah bersih dari segala macam | tumbuhan yang terdapat di atasnya. Apabila tidak memungkinkan, penanaman menyesuaikan dengan vegetasi yang sudah ada.

3) Jenis tanah

Jenis tanah yang berlempung cenderung lebih sulit dalam pengolahan karena tanah ini akan mengering dan keras dalam kondisi yang kering. Untuk itu, waktu yang diperlukan dalam pengolahan tanah relatif lebih lama karena tanaman sayur membutuhkan kondisi tanah yang subur dan benar-benar gembur. Daerah pegunungan memiliki pertumbuhan yang lebih bagus dibandingkan tanah yang kering.

4) Musim

Efektivitas pengolahan tanah juga ditentukan oleh musim. Lahan dengan kondisi terlalu basah maupun terlalu kering menyebabkan hasil olah tanah menjadi kurang optimal. Pada musim penghujan, tanah cenderung sangat basah. Hal ini menyebabkan pengolahan tanah dengan traktor terganggu karena banyak tanah yang menempel pada roda traktor.

 

  1. Bedengan dan Saluran Drainase

Bedengan berasal dari kata bed yang artinya tempat tidur. Bedengan merupakan tempat tumbuh tanaman budidaya yang dibuat dengan cara meninggikan tanah sehingga lebih mudah memberikan perlakuan khusus pada tanaman. Kata drainase berasal dari bahasa Inggris drainage yang berarti pembuangan air. Saluran pembuangan air di antara bedengan dialirkan ke tempat yang lebih rendah.

Tujuan pembuatan bedengan adalah untuk mempermudah petani dalam melakukan perawatan tanaman, seperti transplanting, penyiraman, penyiangan, serta pemanenan tanaman. Pembuatan saluran drainase bertujuan menghindari terjadinya genangan air sehingga air dapat mengalir dengan lancar. Dengan adanya saluran drainase ini, pemberian air pada tanaman dapat disesuaikan dengan kebutuhan air tanaman pada setiap fase tumbuh.

 

  1. Teknik Pembuatan Bedengan

Setelah pengolahan tanah kedua, perlu dilakukan lagi penggemburan tanah. Hal ini karena tanaman sayur membutuhkan tanah dengan struktur gembur sehingga bulu-bulu akar dapat mudah menyerap air dan unsur hara. Selanjutnya, perlu dibuat gundukan tanah dengan ketinggian kurang lebih 30 cm dan lebar 1-1,2 m. Adapun antara bedengan satu dengan bedengan lainnya diberikan jarak kurang lebih 30 cm bergantung jenis komoditas sayur yang akan dibudidayakan. Panjang bedengan dibuat menyesuaikan dengan kondisi lahan. Bedengan atau gulud dibuat pada lahan yang datar. Sebaliknya, pada lahan miring yaitu di daerah pegunungan umumnya dibuatkan teras disebut terasering.

Saluran drainase letaknya berada di antara dua bedengan yang berfungsi mengalirkan kelebihan air sekaligus sebagai jalan untuk pemeliharaan. Sebaiknya, ukuran saluran drainase disesuaikan agar mudah dilewati. Saluran yang terlalu sempit menyulitkan proses pemeliharaan tanaman. Sebaliknya, apabila terlalu lebar akan mengurangi efisiensi lahan.

  1. Tinggi Bedengan

Pada musim penghujan, sebaiknya bedengan dibuat lebih tinggi dibandingkan musim kemarau. Hal ini karena pada musim penghujan kondisi tanah cenderung tergenang dan basah. Kondisi tersebut menyebabkan tanaman menjadi stres karena seluruh pori mikro tanah tertutup oleh air. Hal tersebut menghambat fungsi fisiologis tanaman sehingga pertumbuhan menjadi tidak optimal.

Pada musim kemarau, tanah cenderung kering. Oleh karena itu, bedengan dibuat lebih rendah dibandingkan pada musim penghujan. Pengairan melalui saluran drainase mempermudah tanaman dalam melakukan penyerapan air dan unsur hara dengan kondisi bedengan yang lebih rendah.

  1. Arah Bedengan

Apabila pembuatan bedengan mempertimbangkan cahaya matahari, arah bedengan yang sesuai adalah timur-barat. Hal tersebut karena cahaya matahari dapat masuk ke sela-sela seluruh tanaman sepanjang hari secara merata. Selain itu, tanaman juga dapat fotosintesis secara optimal. Apabila pertimbangannya arah angin, arah bedengan yang digunakan yaitu utara-selatan. Arah bedengan ini sebenarnya tidak mutlak penggunaannya karena tidak terlalu berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Hal ini menyesuaikan kondisi lingkungan yang ada.

  1. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pembuatan Bedengan

Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan pembuatan bedengan tanaman sayur diuraikan sebagai berikut.

  1. Topografi (kemiringan lahan)

Pada tanah yang miring, bedengan sebaiknya dibuat berlawanan dengan kemiringan lahan. Tujuannya agar pada musim penghujan aliran air pada permukaan tanah dapat dikurangi serta meminimalkan terjadinya erosi. Apabila tanah lapisan atas banyak yang terkikis oleh air, humus akan hilang sehingga terjadi kerusakan tanah.

  1. Jarak tanam

Salah satu faktor yang menentukan produktivitas tanaman adalah jarak antartanaman yang dibudidayakan. Jarak tanam yang tepat akan memberikan ruang pada tanaman untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Hal tersebut dapat terjadi karena tidak mengalami persaingan unsur hara antara tanaman satu dengan tanaman yang lain.

Pengaturan jarak tanam yang tidak tepat akan menimbulkan beberapa gejala fisiologis pada tanaman. Gejala-gejala tersebut ditandai dengan perubahan lebar kanopi, tinggi tanaman, serta menghambat pertumbuhan tanaman karena persaingan air dan unsur hara. Jarak tanam ini yang nantinya akan menenturan lebar bedengan yang dibuat dengan satu galur ataupun dua galur.

  1. Curah hujan

Ketika melakukan kegiatan budidaya, penentuan tinggi bedengan harus mempertimbangkan kondisi iklim atau curah hujan. Ketinggian bedengan yang dibuat petani pada umumnya adalah 30 cm. Pada bedengan yang lebih tinggi, kadar air tanah umumnya lebih rendah sehingga pori tanah dapat diisi oleh udara. Hal tersebut menyebabkan sirkulasi udara dan nutrisi dalam tanah berjalan lebih baik.

Pada musim hujan, bedengan dibuat lebih tinggi. Hal ini bertujuan mencegah terendamnya akar tanaman sehingga pertumbuhan tidak terganggu dan produksi tanaman akan meningkat. Begitu pula sebaliknya, pada musim kemarau bedengan dibuat lebih rendah untuk memudahkan penyerapan air oleh akar tanaman.

Rangkuman

Pengolahan tanah merupakan salah satu bagian dari kegiatan budidaya ya bertujuan memperbaiki struktur serta aerasi dan drainase tanah. Kegiatan pengolahan tanah antara lain membersihkan lahan dari bebatuan, kotoran dan gulma, serta membolak-balikkan tanah menggunakan garu, cangkul, dan traktor. Alat-alat yang digunakan untuk melakukan pengolahan tanah dibedakan menjadi dua yartu alat dan mesin pengolahan tanah pertama (primary tillage eguipment) serta alat dan mesin pengolahan tanah kedua (secondary tillage eguipment). Bedengan dibuat untuk mempermudah petani dalam melakukan perawatan tanaman, sedangkan saluran drainase berfungsi mengalirkan air. Drainase dilakukan agar tidak terjadi Genangan yang dapat menghambat proses metabolisme tanaman. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan bedengan, yaitu topografi/kernuringan lahan, jarak tanam dan curah hujan.

 

 

 

Tugas Kelompok

Melakukan Pembuatan Bedengan

Alat dan Bahan

  1. Baju lapang sepatu lapang, sarung tangan, dan topi.
  2. Cangkul
  3. Sabit parang
  4. Meteran
  5. Papan/Kayu
  6. Tali rafia
  7. Patok kayu

 

Prosedur Kerja

  1. Bendaalah sesuai dengan keyakinan dan ajaran agama masing-masing,
  2. Bentuklah kelompok yang masing masing terdiri atas 2-3 siswa.
  3. Siapkan alat dan bahan untuk pengolahan tanah.
  4. Gunakan alat pelindung din (K3) untuk menghindari terjadinya kecelakaan kerja,
  5. Lakukan pengamatan terhadap lahan, gemburkan kembali lahan yang sudah diolah,
  6. Siapkan meteran, ukur lebar bedengan dengan menggunakan meteran Gunakan patok kayu sebagai pembatas antarbedengan. Tentukan lebar bedengan sesuy Gengan jenis tanaman sayur yang akan ditanam.
  7. Buat bedengan dengan membuat gundukan terlebih dahulu. Kemudian saluran dramase dengan ukuran yang telah ditentukan. Ukuran saluran draina menyesuaikan dengan kebutuhan.
  8. Diskusikan hasil kegiatanmu secara berkelompok.
  9. Susunlah laporan kegiatan praktikum secara sistematis.

disadur dari buku Agribisnis Tanaman Sayuran, karangan Tantri Sofiastini

video pembelajaran lainnya dapat diikuti di channe Budi ATPH

Leave a Reply

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download this post as PDF
CommentLuv badge

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.