“Demi Allah, saya bersumpah/berjanji; Bahwa saya, untuk diangkat menjadi PNS, akan setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara dan Pemerintah; Bahwa saya, akan mentaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian, kesadaran, dan tanggungjawab; Bahwa saya, akan senantiasa menjunjung tinggi kehormatan Negara, Pemerintah, dan martabat Pegawai Negeri, serta akan senantiasa mengutamakan kepentingan Negara daripada kepentingan saya sendiri, seorang atau golongan; Bahwa saya, akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus saya rahasiakan; Bahwa saya, akan bekerja dengan jujur, tertib, cermat dan bersemangat untuk kepentingan Negara.”
Ketika masih sekolah dulu saya diajarkan oleh guru bahwa tanda “slash” atau garis miring bisa menunjukkan pilihan salah satu diantara keduanya. Tidak mengherankan jika pada pilihan bersumpah/berjanji, saya memilih milih yang janji, karena janji itu adalah utang. Meskipun secara lisan melafalkan sumpah, namun dalam hati hanya berjanji. Karena janji adalah utang.
Semua politikus, pejabat, abdi masyarakat, penegak hukum, wasit, atlet hingga pegawai rendahan berjanji sebelum melaksanakan tugasnya. Banyaknya stok janji di negeri ini berdampak pada banyaknya utang yang harus ditunggu realisasinya oleh masyarakat. Jumlah janji-janji akan berbanding lurus dengan jumlah utang.
Utang itu bisa dikredit bahkan jika perlu berkelit. Masyarakat sepertinya sudah kebal akan janji-janji. Lingkaran janji bergulir sepeti bola salju, makin ke bawah makin besar. Lihat saja sertifikasi guru yang dijanjikan kepada guru-guru akan dibayar secara tertib menyebabkan guru juga berjanji kepada siswanya. Yang menjadi korban tentu yang kejatuhan janji paling bawah. SISWA…!
wah berarti kalo janji2 itu udah bertumpuk, utangnya juga makin bertumpuk dunk gan… salut deh buat postingnya… keep visit gan… mohon tukeran link gan…
biasanya acara berkelitnya pake alasan: maklum hanya manusia biasa, manusia tempatnya alpa dan lupa 🙂
Karena ada lagu yang liriknya di antaranya berbunyi begini, “janji…janji tinggal janjiiii….”, yang membuat banyak orang menjadi resah dan akhirnya sakit jiwa karena hanya menanti janji. Hihihihi!
Salam kekerabatan.
blog is money. janji is money..jadi blog is janji…lho gak sambung ya pak
Wah.. benar sekali pak. janji is money.. eh.. janji adalah hutang.. hehehe… semoga saya bisa menepati janji setia saya. 😀
makasih kunjungannya
jadi teringat sumpah/janji diri sendiri,,terimakasih pak..sudah diingatkan..salam kenal.
banyak yang tahu bahwa janji itu adalah hutang, namun tak sedikit pula yang menganggap bahwa janji itu hanya sebatas dibibir. entahlah, yang pasti suatu saat nanti hutang itu pasti akan ditagih…
Kok gitu ya, Pak? Siswa jadi korban? Payah lagi ni…!
Memang berat mas kalo sudah berucap, apapun itu. Karenalah berusaha saja menepatinya