BEST PRACTICE
Tema: Lingkungan Bersih Aku Sehat
I. Identitas Praktik Baik
Nama Guru : BUDI SANTOSA
Sekolah : SMKN Paku
Program Keahlian : Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (ATPH)
Tahun Pelaksanaan : 2025
Judul Kegiatan : Pemanfaatan Sampah Organik Sisa Hasil Produksi Pertanian Menjadi Pupuk Cair dan Kompos
Lokasi Kegiatan : SMKN Paku
II. Latar Belakang
Kegiatan produksi pertanian di lingkungan sekolah menghasilkan limbah organik seperti daun, batang, dan sisa tanaman pasca panen. Limbah tersebut sering kali dibiarkan menumpuk sehingga menimbulkan pemandangan tidak sedap dan mengganggu kebersihan lingkungan.
Berangkat dari permasalahan tersebut, muncul ide untuk memanfaatkan sampah organik menjadi pupuk cair dan kompos sebagai bentuk kegiatan peduli lingkungan. Melalui tema ‘Lingkungan Bersih Aku Sehat’, praktik ini tidak hanya bertujuan mengurangi limbah, tetapi juga memberikan nilai tambah berupa produk ramah lingkungan yang bermanfaat bagi kegiatan pembelajaran dan praktik pertanian di sekolah.
III. Tujuan Kegiatan
- Mengurangi timbunan sampah organik hasil kegiatan pertanian.
- Meningkatkan kesadaran siswa terhadap pentingnya pengelolaan limbah berbasis lingkungan.
- Menghasilkan pupuk organik cair dan kompos untuk menunjang kegiatan pembelajaran produktif.
- Menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, sehat, dan berdaya guna.
IV. Inovasi / Solusi yang Diterapkan
Inovasi yang dilakukan dalam praktik baik ini adalah pemanfaatan drum plastik 200 liter dengan sistem fermentasi anaerobik menggunakan airlock system untuk menjaga sirkulasi metabolisme mikroba. Selain itu, digunakan bahan gula dan EM4 sebagai aktivator mikroorganisme pengurai. Proses fermentasi dilakukan selama 14 hari sehingga dihasilkan pupuk cair dan kompos berkualitas tanpa bau menyengat.
V. Langkah-Langkah Pelaksanaan
- Persiapan Alat dan Bahan: Drum plastik ukuran 200 liter, selang plastik dan airlock system, daun dan batang pasca panen, gula, EM4, dan air.
- Mengaktifkan EM4 dengan cara melarutkan EM4 dalam wadah 10 liter di beri 1 liter EM4 dan gula atau cacahan tebu ditambah air hingga 80% volume wadah, kemudian didiamkan selama 24 jam
- Pencacahan Bahan Organik: Sisa tanaman dipotong kecil agar mudah terurai.
- Pencampuran Bahan Fermentasi: Bahan organik dimasukkan ke drum, ditambah larutan gula dan EM4 yang sudah diaktifkan, lalu diaduk hingga merata.
- Fermentasi Anaerobik: Drum ditutup rapat dan dihubungkan dengan airlock system selama 14 hari.
- Pemanenan dan Pemanfaatan Hasil: Cairan hasil fermentasi disaring menjadi pupuk organik cair, sedangkan endapannya dijadikan kompos
Gbr 1. Ilustrasi tabung fermentasi
VI. Hasil dan Dampak
Hasil:
- Menghasilkan pupuk organik cair dan kompos untuk kegiatan praktik siswa.
- Meningkatkan keterampilan siswa dalam pengolahan limbah pertanian.
- Mengurangi volume sampah organik di lingkungan sekolah.
Dampak Positif:
- Lingkungan sekolah menjadi bersih, sehat, dan bebas bau.
- Siswa memiliki kesadaran ekologis lebih tinggi.
- Sekolah memiliki produk organik yang bermanfaat bagi kegiatan pertanian dan penghijauan.
VII. Faktor Pendukung dan Penghambat
Faktor Pendukung:
- Dukungan dari Kepala Sekolah , Guru Produktif Guru Mapel Kokurikuler.
- Ketersediaan bahan organik yang melimpah.
- Antusiasme siswa dalam kegiatan lingkungan.
Faktor Penghambat:
- Waktu fermentasi yang relatif lama.
- Keterbatasan jumlah drum dan alat fermentasi.
- Alat pencacah yang masih manual
VIII. Keberlanjutan Kegiatan
Kegiatan ini akan terus dikembangkan dengan selalu bergotong royong dan menumbuhkan sikap inovatif dengan menambah jumlah drum dan memperluas area pengolahan serta mesin pencacah. Produk pupuk organik cair dan kompos akan digunakan secara rutin untuk kegiatan praktik budidaya tanaman di sekolah serta dapat dijual sebagai produk unggulan sekolah. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berkontribusi terhadap kebersihan lingkungan, tetapi juga mendukung visi SMK sebagai sekolah yang berkarakter, humanis, gotong royong, inovatif dan amanah.
Update November 2025, mesin pencacah dibelikan sekolah

