Hari ini 20 Maret 2011, bersama Anggota Ambalan R. Susilo mengadakan hiking mengelilingi hutan di belakang sekolah. Mereka berlatih mengenal alam lebih dekat, bekerja sama, saling membantu agar lebih dekat dengan sang pencipta alam serta isinya ini.
Saya merasakan kebahagiaan terpancar pada para peserta termasuk saya yang mendampingi. Meski keringat bercucuran membasahi sekujur tubuh, meski tehalang jalan terjal dan berliku, semua dapat dijalani dengan rasa bahagia.
Dimana Letak Bahagia Anda?
Ditulis oleh: Anne Ahira
“Tempat untuk berbahagia itu ada di sini. Waktu untuk berbahagia itu kini. Cara untuk

berbahagia ialah dengan membuat orang lain berbahagia” — Robert G. Ingersoll
Budi, apakah saat ini merasa bahagia? Di mana letak kebahagiaan Budi sesungguhnya? Apakah pada moleknya tubuh? ..Jelitanya rupa? Tumpukan harta? ….atau barangkali punya mobil mewah & tingginya jabatan? Jika itu semua sudah Budi dapatkan, apakah Budi bisa memastikan bahwa Budi *akan* bahagia?Hari ini saya akan mengajak Budi untuk melihat, kalau limpahan harta tidak selalu mengantarkan pada kebahagiaan
Dan ini kisah nyata…
Ada delapan orang miliuner yang memiliki nasib kurang menyenangkan di akhir hidupnya. Tahun 1923, para miliuner berkumpul di Hotel Edge Water Beach di Chicago, Amerika Serikat. Saat itu, mereka adalah kumpulan orang-orang yang sangat sukses di zamannya. Namun, tengoklah nasib tragis mereka 25 tahun sesudahnya! Saya akan menyebutnya satu persatu :
=> Charles Schwab, CEO Bethlehem Steel,
perusahaan besi baja ternama waktu itu. Dia mengalami kebangkrutan total, hingga harus berhutang untuk membiayai 5 tahun hidupnya sebelum meninggal.
=> Richard Whitney, President New York Stock Exchange. Pria ini harus menghabiskan sisa hidupnya dipenjara Sing Sing.
=> Jesse Livermore (raja saham “The Great Bear” di Wall Street), Ivar Krueger (CEO perusahaan hak cipta), Leon Fraser (Chairman of Bank of International Settlement), ketiganya
memilih mati bunuh diri.
=> Howard Hupson, CEO perusahaan gas terbesar di Amerika Utara. Hupson sakit jiwa dan meninggal di rumah sakit jiwa.
=> Arthur Cutton, pemilik pabrik tepung terbesar di dunia, meninggal di negeri orang lain.
=> Albert Fall, anggota kabinet presiden Amerika Serikat, meninggal di rumahnya ketika baru saja keluar dari penjara.
Kisah di atas merupakan bukti, bahwa kekayaan yang melimpah bukan jaminan akhir kehidupan yang bahagia!Kebahagiaan memang menjadi faktor yang begitu didambakan bagi semua orang.
Hampir segala tujuan muaranya ada pada kebahagiaan. Kebanyakan orang baru bisa merasakan *hidup* jika sudah menemukan kebahagiaan.
Pertanyaannya, di mana kita bisa mencari kebahagiaan?
Apakah di pusat pertokoan? Salon kecantikan yg mahal? Restoran mewah? Di Hawaii? di Paris? atau di mana? Sesungguhnya, kebahagiaan itu tdk perlu dicari kemana-mana… karena ia ada
di hati setiap manusia.
Carilah kebahagiaan dalam hatimu!
Telusuri ‘rasa’ itu dalam kalbumu!
Percayalah, ia tak akan lari kemana-mana…
Hari ini saya akan berbagi tips bagaimana kita sesungguhnya bisa mendapatkan kebahagiaan *setiap hari*.
Berikut adalah tips yang bisa Budi lakukan:
1. Mulailah Berbagi!
Ciptakan suasana bahagia dengan cara berbagi dengan orang lain. Dengan cara berbagi akan menjadikan hidup kita terasa lebih berarti.
2. Bebaskan hati dari rasa benci, bebaskan pikiran dari segala kekhawatiran.
Menyimpan rasa benci, marah atau dengki hanya akan membuat hati merasa tidak
nyaman dan tersiksa.
3. Murahlah dalam memaafkan!
Jika ada orang yang menyakiti, jangan balik memaki-maki. Mendingan berteriak “Hey! Kamu sudah saya maafkan!!”. Dengan memiliki sikap demikian, hati kita akan menjadi lebih tenang, dan amarah kita bisa hilang. Tidak percaya? Coba saja! Saya sering melakukannya. 🙂
4. Lakukan sesuatu yang bermakna.
Hidup di dunia ini hanya sementara. Lebih baik Budi gunakan setiap waktu dan kesempatan yang ada untuk melakukan hal-hal yang bermakna, untuk diri sendiri, keluarga, dan orang lain. Dengan cara seperti ini maka kebahagiaan Budi akan bertambah dan terus bertambah.
5. Dan yang terakhir, Budi jangan terlalu banyak berharap pada orang lain, nanti Budi akan kecewa! Ingat, kebahagiaan merupakan tanggung jawab masing-masing, bukan tanggung
jawab teman, keluarga, kekasih, atau orang lain. Lebih baik kita perbanyak harap hanya kepada Yang Maha Kasih dan Kaya.
Karena Dia-lah yang menciptakan kita, dan Dia-lah yang menciptakan segala ‘rasa’, termasuk rasa bahagia yang selalu Budi inginkan. ^_^
Usually I do not learn post on blogs, however I would like to say that this write-up very compelled me to check out and do
so! Your writing taste has been surprised me. Thanks, quite great post.
Terima kasih pak untuk perenungannya..
kadang hal kecil seperti ini memang kita lupakan
banyak-banyak makan pak…jangan biasain lembur,ntar tkanan darahny makin turun
kalau saya selalu bahagia kalau selalu dekat dan berkumpul dengan keluarga
malsih ya tipsnya pa saya mau coba heee
Meski setua ini tetap saja kita harus selalu diingatkan akan ajaran kebaikan.
Makasih atas nasihatnya, Pak.